tezuka_in
 'I will be brave, I will not let anything take away......."

Ketika aku tengah menantikan datangnya akhir  bulan ini dengan antusias, jauh-jauh hari sudah membuat beraneka rencana manis di tengah kerabat, teman-teman lama dan baru dan tentu saja dengan teman hatiku untuk sekedar melewatkan hari lebih dari sekedar hari biasanya. Namun alih-alih semua berjalan sesuai rencana ujian hidup datang begitu saja tanpa permisi. Sebuah 'teguran' yang tak hanya membuyarkan rencanaku sekaligus juga menghancurkan tatanan hidupku yang mengalir santai, menghentikan paksa gelombang perasaan yang tak semestinya, hingga mebuatku berkubang dalam gelapnya keputusasaan. Tekanan demi tekanan terus menghantam sementara bayangan suram ikut beraksi, sedikit demi sedikit membuat dinding pertahananku terkikis nyaris membuat topeng ketegaranku hancur. 
Berada di tempat asing, jauh dari sanak, sahabat sementara belum ada sosok-sosok yang bisa menggantikan mereka secara utuh, menjadikan aku kesulitan berdiri tegak menantang ujian yang mau tak mau harus kuhadapi. Tangisan permintaan sokongan ketenangan yang tak kudapatkan darinya yang seharusnya menjadi tempatku berpegang secara nyata saat ini dan kehidupan nanti, tak ayal memecahkan kantung kekecewaanku yang telah menumpuk sekian lama. Aku pun semakin limbung dengan menyedihkan karena di saat demikian aku tak bisa mendekat kepada-Nya terhalang oleh kodrat perempuan. Namun demikian uluran tangan-Nya datang dengan perantaraan yang tak kuduga sama sekali. Entah karena hatiku mulai tergerak padanya, ataukah hanya sekedar lintasan strategi untuk bertahan, tanganku yang menggapai tak tentu arah pun meraihnya. Mencuri sedikit kebijaksanannya, menimba ketenangan dan kenyamanan yang terus muncul ketika dia ada. Aku tak peduli seberapa nyinyir mereka yang tak tahu berkata, seberapa sakit orang yang terluka karena ulahku ini, benar-benar mengambil resiko dengan mempertaruhkan masa depanku. Aku hanya tahu, aku bisa kembali tegak, kembali menjadi aku yang kuat menghadapi setiap masalah dengan wajah tenang walau ruwet di dalam adalah karena keberadaannya. Walau banyak yang mengangggapnya batu kusam yang tergeletak tak menarik perhatian, tapi aku memerlukannya untuk kugenggam dan kurasakan ketajamannya agar kuncup dalam diriku bisa mekar dan menebarkan wangi yang baru. Hidup memang selalu dan akan terus berpapasan dengan masalah, demikian juga denganku. Menginjak usia yang tak bisa dikatakan muda lagi, kutengok ke belakang dan kulihat rentetan ujian yang telah kutemui. Memang tak semua bisa kuhadapi dengan sempurna, namun setidaknya aku tetap bertahan. Di penghujung bulan ini, tak lebih aku berharap semoga kedewasaan semakin lekat dalam diriku. Aku bisa bersabar dan memantapkan hati demi sebuah niat tulus untuk menjadi sosok yang lebih mumpuni. 
tezuka_in
" I don't know why I miss you, why I usually hope you. I don't know why I love you "

Sebaris kalimat yang terkirim di tengah malam, ketika mataku terpejam, pikiran telah berkelana ke alam mimpi hingga aku tergugah dari tidur mendengar dering ponselku. Sebaris kalimat dalam bahasa asing sederhana yang mungkin tak menggunakan kaidah tata bahasa yang tepat namun mudah kumengerti maksudnya. Entah itu tulus dari hatinya atau sekedar rayuan, pada akhirnya pengakuan itu membuatku terbangun dengan hati berdebar. Cinta, entah berapa kali kata ini mampir ke dalam hidupku. Walau aku juga tak pernah tahu apakah semua yang kurasakan itu benar-benar cinta atau hanya emosi sesaatku sebagai pribadi yang mudah terbawa suasana. Demikian pula saat ini, pengakuan demi pengakuan membuatku terhanyut dan perlahan-lahan aku pun menyimpulkan bahwa aku juga merasakan hal yang sama. Cukup dengan hanya melihat sosoknya di kejauhan membuatku berdebar. Emosiku bergejolak jika menyapa dan bercanda tawa dengannya. Dia menjadi penyemangatku dalam melewati kejenuhan. Ketika hati mulai condong padanya, ungkapan sayang dan cinta darinya semakin membuatku lekat padanya. Hanya saja, aku tak bisa terus menerus begini....aku hanya bisa berkata....

You can say all thing must end
You can smile and even pretend
You can turn and walk away so easily
You turn and say you're leaving me for good
But you can't say....you don't love me anymore
And so do I
tezuka_in
Akhir-akhir ini Elex Media Komputindo selaku satu dari penerbit cerita bergambar di Indonesia getol menerbitkan ulang komik-komik Jepang lama yang dulu lumayan terkenal. Cetak ulang ini agak berbeda dari biasanya karena komik-komik populer tersebut dikemas dalam bentuk deluxe yang setelah diperhatikan satu buku deluxe mencakup satu setengah hingga dua komik reguler yang dijadikan satu. Hingga kini terhitung lebih dari tiga judul komik lawas yang telah muncul edisi deluxenya, sebut saja serial Topeng Kaca, Natane, Kungfu Boy Premium, Slam Dunk, semuanya merupakan komik populer pada masanya dan ketika diterbit ulang masih juga diburu penggemar komik-komik tersebut.
Pop Corn karya Yoko Shoji menjadi produk deluxe terbaru dari Elex Media. Apa keunggulan komik ini hingga layak dibuat deluxe ? Pop Corn merupakan komik yang tenar di tahun 90-an. Tak heran jika gambarnya pun masih sederhana baik dari karakter, fashion maupun background. Anak-anak sekarang mungkin asing dengan komik ini, dan mereka yang terbiasa dengan artwork yang cantik mungkin sedikit enggan untuk membaca komik ini. Kekuatan komik ini terletak pada jalinan cerita yang kompleks dan sarat makna hidup. Adalah Naoko Kitashiro yang akrab dengan sebtan Nakki menjadi tokoh utama komik ini. Dimulai dari kedatangan Nakki ke Tokyo yang serba mengejutkan hingga persahabatannya dengan Iwasaki, Mai, Tamura, Hatsune dan Okita yang menjadi legenda anak badung SMP Tokyo. Komik ini menceritakan kisah Nakki beserta sahabat-sahabatnya dari kecil hingga dewasa lengkap dengan konflik personal sesuai latar belakang keluarganya dan bumbu percintaan masing-masing personal. Nakki yang ternyata dipisahkan dengan saudara kembarnya sejak kecil harus megalami pergolakan batin akan keputusan orang tuanya yang dirasa telah membuangnya. Ia juga harus merasakan pahitnya cinta pertama yang lebih memilih saudara kembarnya, kehilangan cinta keduanya akibat kematian sampai akhirnya Nakki menemukan pilihan hidup yang terbaik baginya. Iwasaki yang harus bergelut dengan cedera yang membuatnya harus melepas impiannya menjadi atlet dan juga kisah cinta segibanyaknya dengan sahabat. Okita mungkin tokoh favorit pembaca yang harus berakhir tragis dijemput maut di puncak gunung. Mai dan Tamura yang harus melewati jalan berliku dan membutuhkan waktu lama sebelum akhirnya bersatu. Dan Hatsune yang harus mengalami kegetiran wanita sebelum memperoleh kebahagiaan. 
Yah mungkin permasalahan pun terlihat sederhana, namun masalah-masalah itu yang justru ada di kehidupan nyata. Pembaca dibuat terhanyut dengan semangat grup Nakki dalam menghadapi masalah dan selalu memikirkan cara agar hidup selalu berwarna dan layak untuk dikenang.
tezuka_in
Satu bulan ini acara pulang kampung kembali ke jadwal semula yaitu seminggu sekali. Kebiasaan yang cukup menguras tenaga setiap minggunya terlebih dalam kondisi cuaca yang tak bersahabat. Menempuh kurang lebih lima jam perjalanan di bawah guyuran hujan dan terpaan angin kencang sudah menjadi resiko yang harus kuhadapi dengan tenang, karena cuaca adalah faktor alam yang mustahil diubah. Dari perjalanan antar kota antar propinsi ini, kutemukan berbagai hal yang patut untuk dikritisi. Satu yang paling krusial adalah buruknya infrastruktur jalan utama penghubung kota yang lebih dikenal dengan jalur selatan pulau Jawa. Jalan raya yang setiap harinya selalu dipadati oleh bermacam-macam jenis kendaraan itu mengalami kerusakan yang parah  di beberapa titik. Jalan semakin membahayakan ketika kondisi hujan lebat. Lubang-lubang menganga dari yang kecil hingga besar tertutup air hujan sehingga tak sedikit kendaraan khususnya roda dua yang tergelincir ketika menemui lubang yang lokasinya tersebar. Kucoba mencari jalan alternatif yang konon bisa mempersingkat jarak tempuh, ternyata kondisinya sama saja bahkan di satu titik lebih parah dari jalan utama. Sebuah realita yang menimbulkan pertanyaan tak terjawab akan kerja pihak yang bertanggung jawab terhadap kelayakan fasilitas umum. Mengapa jalan yang sudah hancur tidak segera diperbaiki? Jika tidak memungkinkan rombak total setidaknya lubang-lubang menganga ditutup sementara agar tidak berbahaya. Ataukah harus menunggu  jatuhnya korban sebelum dilakukan perbaikan ? Yang membuatku heran kondisi serupa jarang terjadi di wilayah DIY. Jalan-jalan yang melintas daerah dibawah kepemimpinan Sultan ini demikian mulus, sangat nyaman untuk dilalui. Bahkan beberapa kali aku menyaksikan perbaikan pada jalan-jalan yang menurutku masih bagus digunakan. Yang membuatku bertanya-tanya mengapa wilayah lain tak bisa meniru ? Meskipun dalam hati aku mempunyai beberapa jawaban klise seputar  PAD, tetap saja aku bertanya-tanya apakah sekedar menambal lubang dan meratakan jalan yang bergelombang tak bisa dilakukan ? Apapun jawaban beserta alasannya, sungguh aku berharap adanya perbaikan infrastruktur alih-alih ribut-ribut kenaikan gaji, kenaikan BBM maupun pengusutan kasus-kasus korupsi yang tak berujung.
tezuka_in
Tahun baru, tak terasa sudah setengah bulan kembali ke sekolah setelah libur semester yang lumayan menyegarkan kembali energi yang menipis. Kembali berkutat dengan tugas lama dan siap menyambut tugas baru yang mau tidak mau harus dijalani dengan harapan memperoleh pahala (sesuai dengan kalimat wajib yang terus diulang setiap harinya ^^). Bulan di awal tahun yang selalu sibuk dan penuh ketegangan menjelang dilaksanakannya ujian akhir untuk siswa kelas terakhir. Hari hari yang diisi dengan jam-jam tambahan untuk mempersiakan materi dan mental demi hasil terbaik yang memuaskan. Oops....tunggu dulu, ternyata tidak demikian dengan sekolahku. Ada apakah gerangan ? Usut punya usut entah benar atau tidak salah satu kegiatan krusial yang nyaris dilakukan di setiap sekolah tidak bisa dilakukan disini dengan alasan tak ada dana pendukung. Mengapa bisa demikian ? Jika dirunut kekurangan dana ini dipengaruhi oleh program sekolah gratis yang notabene sekolah dilarang memungut biaya dari siswa. 
Kata gratis memang menjadi magnet bagi siapapun. Terlebih bagi para orang tua yang harus membanting tulang dengan melambungnya biaya pendidikan khususnya mereka yang memiliki putra putri usia sekolah di luar program wajib belajar 9 tahun. Dan jadilah pendidikan menjadi bagian dari strategi politik yang memang berpeluang memperoleh simpati besar bagi rakyat. Walhasil, janji pendidikan gratis pun harus ditepati. Hal yang ternyata menimbulkan polemik di kemudian hari. Sekolah gratis pada dasarnya bukan tidak membayar untuk sekolah, melainkan segala biaya yang ditimbulkan dalam proses belajar mengajar dibiayai oleh pemerintah. Sayangnya pengertian gratis dalam arti sempit alias tidak mengeluarkan biaya sepeserpun untuk mengenyam pendidikan terlanjur melekat di benak wali murid. Akibatnya sekolah pun kelimpungan mengatur dana untuk memenuhi kebutuhan operasional tanpa memungut iuran baik wajib maupun sukarela dari siswa. Sekolah tak bisa mengambil resiko dengan menarik iuran dengan adanya pernyataan "pendidikan gratis" jika tak ingin dikasuskan dan di blow up di media massa. Sementara kebutuhan mendesak untuk segera dipenuhi dan dana pendidikan tidak bisa dicairkan setiap saat. 
Sekolah gratis memang meringankan beban rakyat, namun kata gratis sangatlah tidak mendidik. Gratis mempengaruhi semangat belajar sebagian siswa yang merasa tidak menjadi beban orang tua sehingga berlaku seenaknya. Bandingkan dengan mereka yang harus mengeluarkan biaya tak sedikit, siswa menjadi terpacu untuk memperoleh hasil terbaik agar tak menyia-nyiakan jerih payah orang tua. Gratis juga mempengaruhi pola pikir wali murid yang tak mau menyisihkan dana untuk menunjang pendidikan putra putri mereka. Kalaupun bersedia berpindahnya rupiah diiringi dengan gumaman hingga gerutuan yang tak jauh dari kata-kata "apanya yang gratis". Sungguh ironis mengingat sekedar membeli semangkuk bubur seharga Rp 2.500,- harus merogoh kocek untuk biaya parkir seribu rupiah dan motor numpang berhenti tak lebih dari sepuluh menit. Bandingkan dengan sekolah yang notabene menitipkan anak di sebuah institusi selama tujuh jam penuh dengan berbagai fasilitas dan yang paling penting bekal ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang tak ternilai. Sungguh tak masuk akal jika segan untuk mengeluarkan biaya demi menunjang masa depan, sekedar untuk mengganti ongkos fotokopi materi yang nyata-nyata diperlukan. Miris hati ini melihat siswa yang lebih suka membolos, menghabiskan waktu di pojok-pojok warung atau rental-rental play station sementara di luar sana banyak mereka yang tidak beruntung harus bersusah payah demi memperoleh pendidikan. Sedih sekali melihat gemar membaca dan belajar hanya menjadi sekedar tulisan, tergantikan oleh kebiasaan mencontek di waktu ujian sekalipun. Siapa yang harus disalahkan ? Tentu tak bisa menunjuk satu pihak begitu saja. Yang perlu dilakukan adalah kesadaran dan kerjasama berbagai pihak, baik sekolah, pemerintah dan orang tua demi pendidikan bermutu bagi bibit-bibit muda sebagai generasi penerus bangsa.

tezuka_in
Hiruk pikuk di akhir tahun kembali kurasakan di penghujung tahun ini. Disaat anak-anak didik dengan gembira menyambut libur semester yang tinggal menghitung hari, para pendidik berkutat dengan kesibukan rutin menjelang pembagian rapor. Dikejar tenggat waktu melaksanakan salah satu tupoksi guru, masing-masing sibuk di depan laptop, dahi berkerut penuh konsentrasi, mulut tak henti bertanya ketika menemui kesulitan dalam mengolah nilai. Demikian pula denganku, berbekal pengalaman beberapa bulan lalu dan sedikit informasi yang kudapat lebih awal, jauh-jauh hari aku sudah mulai menginput data. Dan jerih payahku terbayar dengan tak perlu bingung mengantri printer yang jumlahnya terbatas ^^. Ada sekelumit cerita di balik kesibukan ini. Pengalaman membuatku berpikir dan bertanya seperti inikah yang terjadi dengan nilai-nilai yang kuperoleh ketika masih duduk di bangku sekolah dulu ? Wallahualam, yang bisa kunyatakan dengan tegas adalah setidaknya dulu aku benar-benar berusaha untuk mendapat nilai bagus dengan cara normal alias belajar.
Tinggalkan saj keributan soal nilai menilai ini, berhubung aku tak mempunyai tanggungan selain guru mapel, ketika daftar rincian tugasku telah rampung aku pun bisa bersantai. Menikmati waktu luang di perpustakaan, berselancar di dunia maya yang akhir-akhir ini jarang kulakukan. Emosi yang kemarin selalu mudah tersulut (dipengaruhi faktor perempuan juga sih ^^) perlahan mengendur, terlebih ketika nyari tiap hari mengobrol jarak jauh dengan teman di seberang pulau. Plus berita gembira akhirnya kudengar di tengah hari yang panas. Beredarnya jadwal piket menjadi penegasan bahwa guru pun ikut libur ^^ Yeyyyyy.......dalam hati aku bersorak kegirangan (tak berani menjerit di depan si mata-mata ^^). Akhirnya bisa juga aku bersantai di akhir tahun ini. Mengendurkan ketegangan yang terus meningkat dengan datangnya berita maupun peristiwa mengganjal di hati. Dan yang terpenting aku bisa menghemat biaya hidup dengan mengurung diri di kampung halaman. Berhemat ? Yups, beberapa bulan ini aku harus berhemat agar penghasilan di awal bulan cukup sampai tanggal satu bulan berikutnya. Malangnya, bulan ini anggaran harus berkurang seperlima dari biasanya karena alasan jelas namun tak jelas kelanjutannya. Pusing mengatur sisa anggaran. berita menyedihkan kembali datang di tengah rapat (lebih tepat acara mendengar celoteh tak bermanfaat) nan membosankan. Betapa kagetnya aku mendengar tak ada libur untuk pendidik. Buyar sudah rencana yang telah kubuat jauh-jauh hari. Ya, institusi tempatku mengabdi ini memang sesuai dengan slogannya "Luar Biasa". Benar-benar di luar kebiasaan pada umumnya dan tak jarang membuat aturan-aturan sendiri yang dirasa menekan para bawahan. Peraturan tak tertulis yang hampir selalu membuat orang yang tahu menggelengkan kepala dan mengelus dada.
Tapi....tinggalkan saja semua itu. Buang jauh-jauh dari pikiran karena libur telah menjelang. Meskipun datang terlambat dan hanya separuh dari umumnya, meskipun berakhir lebih cepat seperti aturan tak tertulis disini, setidaknya aku bisa berhenti sejenak, keluar dari lingkaran penuh intrik dan bersantai, memuaskan hobi berdendang yang sangat kurindukan. Selamat berlibur !!!!!!!

tezuka_in
Kesan pertama selalu menjadi tolak ukurku dalam menilai sesuatu. Mungkin hal itu tidak bisa selalu dijadikan pegangan, pepatah mengatakan "tak kenal maka tak sayang", jadi bukan tidak mungkin kesan pertama yang buruk dikarenakan kita belum  mengenal dengan lebih mendalam. Sayangnya penilaian saat kesan pertama selalu mempengaruhiku dalam menilai sesuatu meskipun penilaian pertamaku seringkali salah. Subyektif, mungkin adalah istilah yang tepat untuk kasusku ini. Demikian pula dengan saat ini, ketika kesan pertama sudah tak mengena di hati, kenyamanan di lingkungan baru yang kutunggu-tunggu tak jua datang. Diperparah dengan satu, dua dan banyak fakta negatif semakin membuatku apatis untuk berkarya di tempat baru ini. 
Setiap orang membutuhkan pengakuan akan keberadaannya. Demikian juga dengan diriku yang menjadi satu di antara setiap orang itu. Dan ketika pengakuan itu tak kunjung ada, lambat laun semangatku di awal mula menipis dan terus menipis ketika mengetahui alasan di balik perlakuan tak menyenangkan itu. Setiap orang di dunia ini bergelut dengan perjuangannya masing-masing. Berhasil atau tidak semuanya patut dihargai atau lebih tepatnya ingin dihargai atas usaha yang telah dilakukan. Berasal dari golongan prestisius bukan jaminan akan kinerja yang diharapakan. Sayang, mata penilai telah tertutup dengan tirai yang dijalinnya sendiri. Patokan-patokan sebagai standar penilaian pun telah bergeser, dengan penambahan atau pengurangan sesuai kacamata subyektifitas.
Seberapa pagi aku tiba di tempat memenuhi kewajibanku, seberapa ringannya tanganku kuulurkan di berbagai tugas, seberapa lengkapnya berkas-berkas yang senantiasa kusiapkan, seberapa perhatiannya aku dengan asuhanku, semua tenggelam di tengah gelombang nama besar akademis, dan tingginya jabatan saudara dekat. Hingga akhirnya kata percuma pun terbentuk di pikiran. Di saat inilah aku teringat kembali akan masa lalu, merindukan semua yang dulu dengan antusias kutinggalkan, Manusia....memang tak pernah puas ^^ Inilah cermin buruk sebuah sistem di Indonesia. Entah kapan sistem ini akan berubah menjadi lebih baik, tak dikotori dengan campur tangan 'dewa' uang. Ataukah sistem ini harus dihancurkan dahulu, dicabut hingga ke akar-akarnya agar bibit sistem yang sama tak tumbuh lagi ? Sudahlah, bukan kapasitasku untuk membahas semua itu, yang bisa kusampaikan hanya sekelumit 'unek-unek' dari perlakuan tak adil yang kuterima hanya karena berasal dari jenjang yang kurang punya nama. Kapankan semua ini akan berakhir ? Betapa aku merindukan kenyamanan di wilayah baru sehingga aku bisa lebih dalam membaktikan diri di tengah masyarakat. Bersyukur, hanya itu yang kupegang saat ini, bersyukur atas takdir yang menjadi jawaban atas doa-doaku. Berharap terus diberi kekuatan dan kesabaran dalam perjuangan yang masih panjang ini.